
Membangun Karakter Unggul: SMAN 67 Jakarta Gelar Pelatihan “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”
Jakarta, 17 April 2026 – Dalam upaya mewujudkan generasi emas yang berkarakter dan berdaya saing global, SMAN 67 Jakarta menggelar kegiatan pelatihan inspiratif bertajuk “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”. Acara yang berlangsung pada Jumat pagi ini menghadirkan narasumber pakar di bidang pengembangan karakter, Bapak H. Aris Setiawan, S.Tp.
Fondasi Karakter Menuju Indonesia Emas 2045
Pelatihan ini merupakan langkah nyata sekolah dalam mengimplementasikan penguatan pendidikan karakter bagi seluruh peserta didik. Dalam materinya, Bapak H. Aris Setiawan memaparkan tujuh pilar kebiasaan utama yang harus diadopsi oleh siswa agar menjadi pribadi yang tangguh, proaktif, dan visioner.
Tujuh kebiasaan tersebut dirancang untuk membantu siswa menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).
“Menjadi ‘Hebat’ bukan sekadar tentang nilai di atas kertas, melainkan tentang konsistensi dalam membangun kebiasaan positif setiap hari. Karakter adalah otot yang harus dilatih,”
Poin Penting Pelatihan
Selama sesi berlangsung, diajak untuk mendalami tujuh aspek kunci, di antaranya:
-
Menjadi Proaktif: Mengambil tanggung jawab penuh atas pilihan hidup.
-
Menentukan Tujuan Akhir: Memiliki visi dan target yang jelas sejak dini.
-
Mendahulukan yang Utama: Manajemen waktu dan skala prioritas.
-
Berpikir Menang-Menang: Menumbuhkan jiwa kolaboratif.
-
Berusaha Mengerti Sebelum Dimengerti: Mengasah empati dan komunikasi.
-
Sinergi: Menghargai perbedaan untuk mencapai hasil yang lebih besar.
-
Mengasah Gergaji: Terus belajar dan memperbaiki diri secara berkelanjutan.
Komitmen SMAN 67 Jakarta
Kepala SMAN 67 Jakarta menegaskan bahwa kegiatan ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi budaya baru di lingkungan sekolah. Dengan bimbingan langsung dari Bapak H. Aris Setiawan, pihak sekolah optimis para siswa akan memiliki bekal mentalitas yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman.
Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi interaktif untuk menerapkan kebiasaan positif tersebut dalam keseharian, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.



